Dampak Dari Bad Engineer dan Bad Management di Perusahaan Teknologi

Perusahaan teknologi sebagai bagian dari industri yang berkembang tidak terlepas dari dua faktor yang membangunnya, sumber daya yang kompeten dari engineering dan kemampuan manajerial yang baik dari manajernya. Engineer merupakan salah satu pekerjaan yang harus menyeimbangkan berbagai keterampilan termasuk akademik, critical thinking, problem solving, kerjasama, dan komunikasi. Sementara itu, manajer perusahaan juga harus memastikan bahwa para engineernya dapat bekerja dengan baik. Keduanya bisa memberikan dampak buruk bagi sebuah perusahaan, jika tidak dikelola dengan baik.
August 10, 2022

Perusahaan teknologi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan produk dan layanan jasa seputar teknologi informasi untuk customer. Dalam sistemnya, perusahaan tidak lepas dari dua faktor yang membangunnya, yaitu sumber daya manusia dan tata kelola manajemen yang berperan dalam mengaturnya. Sebagai perusahaan teknologi yang mengembangkan atau memproduksi suatu produk/jasa teknologi informasi, maka tidak akan terlepas dari sumber daya atau resource yang dimiliki yaitu engineer. Engineer mengkombinasikan kemampuan dari specialized knowledge, desain, keterampilan, dan empirisme untuk membangun produk atau layanan. Karena proyek engineering seringkali rumit, mereka membutuhkan sejumlah engineer yang baik dan manajemen engineering yang  terstruktur.

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam penyediaan produk atau layanan teknologi informasi, perusahaan teknologi memiliki 3 bidang utama yang menjadi perhatian, yang meliputi tata kelola sistem teknologi informasi perusahaan, pemeliharaan infrastruktur teknologi informasi, dan fungsionalitas sistem secara keseluruhan. Selain itu manajemen yang baik juga memainkan peran penting yang dapat dirasakan di beberapa lingkungan bisnis. Ini terdiri dari struktur dan prosedur organisasi dan kepemimpinan yang menjamin kontribusi teknologi informasi perusahaan terhadap pencapaian strategi dan tujuan bisnis.

Sejalan dengan pekerjaan, ada beberapa hal yang mungkin tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Engineer ingin menjadi seefektif mungkin, tetapi beberapa tidak tepat sasaran. Banyak engineer mengembangkan beberapa kebiasaan buruk. Ada beberapa dampak bagi perusahaan karena kinerja engineer yang buruk, misalnya, reputasi organisasi yang negatif, tingkat moral karyawan yang rendah, produktivitas yang menurun, stakeholder tidak puas, dan gangguan sehari-hari. Sementara itu, jika kita berbicara dengan dampak dari manajemen yang buruk, itu mengarah pada engagement yang rendah. Engagement yang rendah menyebabkan penurunan produktivitas dan omset yang lebih rendah untuk bisnis. Secara detail kita akan membahas topik ini dengan Timotius Nugroho Chandra, seorang Senior Principal Software Engineer dari GLAIR.AI.

Good Engineer vs Bad Engineer, Apa Bedanya?

Sebagai seorang engineer, kualitas dan kemampuan mereka akan menunjukkan bagaimana mereka dipandang. Pada dasarnya, seseorang dikatakan baik atau buruk tergantung pada penilaian orang lain dan bagaimana orang lain memandang kualitas pekerjaannya. Hal ini juga perlu ditangani secara kasus demi kasus. Di bidang teknologi informasi, seorang engineer yang baik tidak hanya jago pemrograman, tetapi juga perlu memahami sisi bisnis dari development yang mereka lakukan. Kemampuan, kualitas kerja, dan hasil kerja harus saling melengkapi untuk dikatakan baik atau buruk.

Hal ini sejalan dengan pendapat Timotius, orang yang berbeda akan memiliki ekspektasi yang berbeda tentang apa yang diperlukan untuk menjadi seorang engineer yang hebat. Apalagi menurutnya jika kita telusuri sampai ke detail terkecil, kita bisa memiliki ratusan – bahkan ribuan – parameter untuk seorang software engineer yang hebat. Namun, ia hanya memilih tiga ciri saja untuk dapat mengkategorikan engineer yang baik dan buruk. Diantaranya adalah:

  1. Seorang great engineer mampu berkomunikasi dengan baik. Sebagian besar masalah di perusahaan teknologi (atau perusahaan mana pun dalam hal ini) bermuara pada masalah komunikasi. Seorang engineer yang berkomunikasi dengan baik akan sangat mengurangi, bahkan mencegah masalah yang tidak perlu.
  2. Seorang great engineer memiliki pemahaman tentang pengetahuan bisnis. Pada akhirnya, engineer adalah problem solver. Customer Anda tidak peduli teknologi apa yang Anda gunakan selama itu memberi nilai atau memecahkan masalah mereka. Engineer hebat memiliki pemahaman terhadap business strategic dan financial acumen yang baik untuk memajukan perusahaan.
  3. Seorang great engineer terus belajar. Hampir setiap hari ada teknologi baru. Misalnya framework JavaScript baru, algoritma pembelajaran mesin baru, bahasa pemrograman baru. Engineer hebat tahu bahwa mereka harus belajar terus menerus dan selalu mengikuti perkembangan hal-hal baru. Selain itu, mereka mengetahui trade-off dan cara menggunakan alat yang tepat untuk pekerjaan yang tepat.

Jika keduanya (engineer yang baik vs yang buruk) dapat disamakan dengan rekan kerja, menurut Timotius, bekerja dengan seseorang yang dapat disebut sebagai "good engineer" tidak akan lelah secara mental atau fisik karena “tidak perlu disuapi" sesering mungkin seperti melakukan briefing, menjelaskan tugas, atau lainnya karena mereka mampu menangani inisiatif untuk diri mereka sendiri. Sementara itu, para engineer yang dikatakan sebagai "bad engineer" “perlu untuk disuapi" setiap kali pekerjaannya selesai karena kurangnya inisiatif.

Komunikasi adalah parameter yang paling penting untuk diperhatikan karena semakin Anda memiliki keterampilan komunikasi yang baik, Anda cenderung memiliki banyak pengalaman. Kemampuan komunikasi engineering sangat penting untuk proses desain dan diperlukan untuk mengkomunikasikan dari pemikiran dan desain tersebut. Engineer seharusnya dapat mengekspresikan diri dengan jelas seperti saat menyampaikan ide-ide dan mengambil keputusan dalam rapat, membuat laporan, dan melakukan presentasi. 

Seberapa Pentingkah Seorang Good Engineer Bagi Perusahaan? Bagaimana Mereka Memberi Dampak?

Secara umum menjalankan sebuah perusahaan itu tidak mudah. Tidak hanya kualitas engineer, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan termasuk kemampuan manajerial perusahaan, peraturan dan prosedur, dan sertifikasi layanan. Sumber daya merupakan pilar pondasi bagi perusahaan untuk menentukan sejauh mana perusahaan akan mendapatkan reputasi terkait dengan kualitas layanan atau produk yang mereka kembangkan untuk customernya.

 Dari sudut pandang Timotius, yang mungkin tampak counterintuitive,  bahwa aset terbesar yang dimiliki perusahaan teknologi bukanlah mesin atau perangkat lunaknya. Bahkan source code yang dihasilkan-pun tidak. Aset terbesar yang dapat dimiliki perusahaan teknologi adalah orang-orangnya. Oleh karena itu, mempekerjakan orang yang tepat sangat penting untuk keberhasilan perusahaan teknologi. Jika kita tidak tahu di mana mencari karyawan yang passionate, qualified, dan driven. Proses rekrutmen harus berhasil dikelola dari awal hingga akhir, dan semua prosedur pengendalian kualitas yang diperlukan harus dilakukan.

“​​Lulusan dari perguruan tinggi tertentu dengan kualitas dan hasil pendidikan yang baik terkadang bisa menjadi tolak ukur seberapa baik orang tersebut dapat melakukan pekerjaan yang akan mereka lakukan di masa depan. Namun semua itu tidak menjamin bahwa mereka menguasai keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Sertifikasi juga tidak bisa menjadi patokan. Orang yang ingin belajar terus menerus adalah tipe yang dibutuhkan oleh perusahaan” tambah Timotius.

 Ketika berbicara tentang dampak yang dapat diberikan kepada perusahaan dari seorang engineer, semuanya sangat besar, tidak hanya tergantung pada yang baik atau buruk. Seperti salah satu kutipan dari Timotius, "One bad apple can spoil the bunch". Jika ada bad engineer  dan manajemen tidak mengambil tindakan yang diperlukan, maka good engineer akan mulai mempertanyakan banyak hal. Good engineer akan mulai meragukan apakah layak tinggal di perusahaan dan pada akhirnya akan pergi ke tempat lain. Ini akan membuat perusahaan hanya memiliki bad engineer. Memiliki good engineer juga tidak menjamin apakah perusahaan dapat berjalan dengan baik, apalagi jika memiliki bad engineer. Seperti kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tendensinya pasti akan ke arah negatif.

 Bagaimana Menghadapi Bad Engineer, dan Bagaimana Manajer yang Baik Menanganinya?

Dalam menghadapi engineer yang buruk, perlu diperhatikan bahwa cara penanganannya tergantung pada kondisi yang ada. Bad Engineer dapat memberikan berbagai dampak pada organisasi dan bottom line nya. Seperti: turnover cost, biaya legal, serta penurunan produktivitas, kinerja, dedikasi karyawan, dan reputasi perusahaan. Engineer yang buruk juga dapat menyebar seperti penyakit. Satu karyawan yang mengganggu awalnya menjadi penyebab masalah, tetapi seiring waktu, karyawan lain mungkin mulai bertindak berbeda dan menjadi percaya bahwa organisasi memiliki toleransi yang tinggi terhadap perilaku buruk.

Dalam hal mengatasi engineer yang buruk, menurut Timotius, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Pekerjakan orang yang tepat. Sebenarnya ini adalah hal yang paling umum tetapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Untuk mempekerjakan orang yang tepat, perusahaan teknologi harus sangat jelas dengan orang seperti apa yang mereka butuhkan. Mereka juga perlu memberikan kompensasi dan tunjangan yang layak. Kemudian mereka harus berinvestasi dalam proses wawancara yang objektif dan tidak memihak.
  2. Berinvestasi dalam proses onboarding yang baik. Proses orientasi yang baik akan mempersiapkan karyawan baru Anda untuk bernavigasi di tempat kerja. Proses orientasi yang baik menetapkan ekspektasi yang benar sehingga karyawan baru sangat jelas dengan apa yang diharapkan dari mereka.
  3. Investasikan dalam mentorship yang baik. Pasangkan karyawan baru Anda dengan karyawan senior. Tidak hanya memberikan mereka teman untuk berdiskusi, pendampingan yang baik pada akhirnya akan memungkinkan mentee menjadi mentor. Sehingga memungkinkan Anda untuk menskalakan tim engineering Anda.

Keputusan untuk memecat engineer yang buruk atau terus mempertahankannya juga tergantung pada kasusnya. Pada dasarnya, mengelola sebuah perusahaan tidak hanya bergantung pada engineer, tetapi juga membutuhkan seorang manajer yang kompeten dalam mengelola tim. Manajer dan engineer sering enggan untuk turun tangan atau menyuarakan keprihatinan mereka tentang rekan kerja yang buruk. Manajer mungkin ragu untuk melakukan diskusi dengan engineer dan seringkali tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mengatasi perilaku dengan cara yang dapat menghasilkan improvement yang bermanfaat. Selain itu, manajer terkadang enggan mengambil tindakan apapun untuk karyawan yang buruk dan akan mengakibatkan kepergian engineer yang baik. Banyak pekerja dipromosikan ke posisi manajemen dengan sedikit pembekalan dan training, yang membuat mereka tidak siap untuk menghadapi perilaku mengganggu ataupun kebiasaan buruk dari karyawannya ketika muncul. Ada kemungkinan bahwa manajer itu sendiri tidak pernah diajarkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk berkomunikasi secara efektif dan berfungsi sebagai anggota tim yang efektif.

Manajer yang baik akan mulai memperhatikan dengan cermat apa yang terjadi ketika perilaku yang tidak baik mulai terjadi dan tidak berpaling dari masalah yang diabaikan. Catat tindakan tertentu yang perlu ditangani, bersama dengan waktu dan komplikasi di mana mereka terjadi. Luangkan waktu untuk mengumpulkan data dan mendapatkan pemahaman yang lengkap tentang masalahnya. Selalu tanyakan kepada engineer dari perspektif mereka; dengan melakukan itu, para manajer sering kali menemukan sesuatu yang menghambat kemajuan mereka dan membuat mereka stres dan dapat diatasi dan diperbaiki. Sebelum perilaku buruk lepas kendali, tindakan sederhana untuk didengar dapat membantu mengurangi eskalasinya. Timotius juga menambahkan bahwa ciri-ciri umum manajer engineer yang baik di perusahaan teknologi adalah.

  1. Delegate. Manajer menyelesaikan pekerjaan mereka melalui bawahan langsung mereka. Oleh karena itu, manajer hebat pandai mendelegasikan tugas.
  2. Mengkritik secara pribadi, memuji secara terbuka. Manajer yang baik memahami bahwa kritik publik sering mengarah pada reaksi defensif dan pujian publik memungkinkan karyawan merasa dihargai dan diakui. Di sisi lain, kritik pribadi dapat mengurangi akuntabilitas. Manajer hebat tahu kapan harus membuat pengecualian untuk aturan ini.
  3. Tetapkan orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat. Manajer yang baik  mengetahui kekuatan dan kelemahan bawahan langsung mereka. Mereka tidak berasumsi bahwa setiap orang memiliki karakteristik yang sama persis.
  4. Trust but verify. Manajer yang baik memahami bahwa musuh terbesar bagi good engineer adalah manajer yang melakukan micromanage. Manajer yang baik  mempercayai tim mereka untuk melakukan pekerjaan mereka dan pada saat yang sama tahu kapan dan bagaimana memverifikasi.
  5. Guru, mentor, pendengar, dan unblocker. Manajer yang baik tidak hanya memberitahu Anda apa yang harus dilakukan. Mereka mengajari Anda cara melakukannya. Mereka membimbing Anda di sepanjang jalan. Mereka mendengarkan Anda. Mereka membantu menyingkirkan masalah yang dapat memblokir Anda dalam mencapai tujuan. 

Ciri-ciri di atas terinspirasi dari Peter Drucker – yang secara luas dianggap sebagai bapak manajemen modern. Menurut beliau, apa yang dapat dilakukan manajer adalah: Menetapkan tujuan, mengatur, memotivasi dan mengomunikasikan, mengukur kinerja, dan mengembangkan karyawannya. Seorang manajer tidak sama dengan seorang pemimpin. Seorang pemimpin memprioritaskan pengembangan dan kesejahteraan anggota tim sementara seorang manajer mungkin bertanggung jawab atas delegasi kerja dan timecards. Manajer yang baik mahir melakukan kedua tugas dan dapat secara efektif memanfaatkan kemampuan setiap karyawan untuk menciptakan perusahaan yang sukses. Untuk melakukan ini, manajer yang efektif menggunakan soft skill dan kecerdasan emosional.

Masalah Apa yang Sering Timbul dalam Manajemen Suatu Organisasi? Bagaimana Itu Bisa Muncul?

Koordinasi proyek, pengawasan karyawan, dan pemecahan masalah secara rutin adalah semua komponen pengelolaan tim. Manajer harus dapat beradaptasi dan fokus untuk melakukannya karena mereka sering mengawasi proyek atau bisnis melalui perubahan staf dan modifikasi kebijakan.

Organisasi dengan manajemen yang buruk mempersulit karyawan untuk berhasil. Kemampuan manajemen yang buruk dapat membahayakan seluruh organisasi dan memiliki dampak jangka panjang. Sementara keterampilan manajemen yang buruk selalu menjadi beban karena mereka memberikan suasana kerja yang sama sekali tidak produktif dan menghambat perkembangan baik perusahaan maupun karyawannya. Timotius mengatakan bahwa sepanjang karirnya di industri teknologi, sebagian besar masalah pada dasarnya bermuara pada masalah komunikasi. Diantaranya adalah:

  1. Situasi he-said vs she-said. Ada pepatah, “if it's not written then it doesn't exist”. Banyak masalah he-said vs she-said bisa dihindari dengan menuliskan setiap keputusan yang diambil.
  2. Requirements  yang tidak jelas dan ambigu. Terlalu banyak orang yang terburu-buru mendiskusikan solusi padahal sebenarnya mereka harus mendefinisikan masalahnya terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan masalah samar yang akhirnya berujung pada requirements yang berubah-ubah – sehingga tidak jelas dan ambigu.
  3. Kurangnya keselarasan strategis antar tim. Ketika eksekutif perusahaan gagal menentukan tujuan yang tepat untuk dikejar semua orang, setiap tim cenderung menciptakan metrik mereka sendiri yang mungkin tidak selaras dan bahkan saling meniadakan satu sama lain.
  4. Tidak ada ekspektasi yang ditetapkan. Ketika harapan tidak ditetapkan, orang tidak memiliki pedoman yang jelas tentang apa yang seharusnya mereka lakukan.

Karena pandemi covid 19, hambatan komunikasi menjadi lebih buruk bagi banyak organisasi karena tenaga kerja mereka pindah ke pekerjaan jarak jauh. Hambatan ini tidak akan hilang, karena lebih dari separuh engineer menunjukkan bahwa mereka ingin terus bekerja dari jarak jauh setelah pandemi. Namun, perusahaan terkemuka menangani masalah ini secara langsung, untuk memastikan bahwa para engineer dapat berinteraksi secara efektif dimanapun mereka berada.

Setiap organisasi yang sukses dibangun di atas komunikasi yang efektif. Komunikasi internal dan eksternal perusahaan secara langsung mencerminkan perusahaan secara keseluruhan, termasuk reputasinya. Bahkan dengan komunikasi yang efektif, masalah masih muncul. Selain itu, mampu berkomunikasi di semua tingkat struktur organisasi meningkatkan komitmen engineer terhadap bisnis dan semangat moral mereka. Pada akhirnya, ini meningkatkan kepuasan kerja dan menurunkan staff turnover. Jika kita memiliki jalur sistem komunikasi yang jelas dalam bisnis dan proyek, engineer kita akan tahu siapa yang harus dihubungi untuk mendapatkan semua informasi dan arahan yang mereka butuhkan agar berhasil menyelesaikan tanggung jawab mereka.

Manajemen yang buruk terutama dalam hal komunikasi akan berdampak buruk menurut Timotius, antara lain: Proyek yang terlambat, target/sasaran yang tidak tercapai, dan turnover karyawan yang tinggi. Hambatan dalam manajemen atau komunikasi akan menghambat pekerjaan proyek atau pekerjaan lain tanpa keselarasan pemikiran antar tim. Proyek yang terlambat dan tertunda akan berdampak tidak tercapainya tujuan atau target yang telah ditetapkan oleh tim, dan berakhir dengan komplikasi berupa tingginya turnover karyawan akibat kinerja organisasi dengan kredibilitas dan reputasi yang rendah.

Bagaimana Mengatasi atau Memberantas Manajemen yang Buruk?

Dalam sebuah organisasi, sistem manajemen yang baik tentu akan memajukan perusahaan. Meningkatkan daya saing, memperluas kerjasama, dan meningkatkan kepuasan klien atau pelanggan. Terkadang banyak perusahaan yang merasa sistem yang dimiliki kurang atau tidak efektif dalam menjalankan siklus bisnis. Tantangan dalam manajemen dalam suatu perusahaan perlu disikapi agar dapat menjaga sistem yang ada di perusahaan dalam kondisi yang baik. Salah satu solusi menurut Timotius adalah memilih orang yang tepat untuk menjadi manajer  engineering. Skill ini tidak bisa dikuasai oleh semua orang, setidaknya ada beberapa kriteria dan kemampuan yang harus dikuasai terlebih dahulu.

Timotius juga menambahkan bahwa kita harus menjelaskan kepada tim bahwa untuk memajukan karir, mereka tidak harus menjadi manajer. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menyediakan jalur karir ganda. Beberapa perusahaan menyebutnya sebagai jalur Individual Contributor (IC) dan jalur Engineering Manager (EM). Jika karyawan berpikir bahwa mereka hanya dapat memajukan karir mereka dengan menjadi manajer, kemungkinan besar perusahaan akan kehilangan engineer yang baik dan mendapatkan manajer yang buruk. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan langkah-langkah berikut ini.

  1. Menciptakan “crystal clear specification” dalam proses talent acquisition sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Saat ini, banyak perusahaan yang tidak transparan dalam menjelaskan kebutuhannya mengenai calon pelamar termasuk persyaratan, kontribusi pekerjaan, proses seleksi yang jelas, keterampilan yang harus dikuasai, hingga beberapa kriteria khusus untuk peran tertentu. Hal ini akan mendorong adanya ekspektasi yang kurang jelas antara pelamar dan perekrut dari perusahaan termasuk ketidaksetaraan dalam menghitung kontribusi yang dapat mereka berikan kepada perusahaan.
  1. Level path: Memberikan manfaat yang menyeimbangkan pekerjaan mereka termasuk kerangka karir/jalur karir yang jelas. Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu reward yang dapat diberikan oleh perusahaan adalah tunjangan dan gaji bagi karyawannya. Dengan banyaknya tuntutan yang diberikan organisasi pada engineer, terkadang sebuah organisasi lupa untuk memberikan imbalan yang seimbang atas kerja keras mereka. Untuk itu, pastikan organisasi kita mampu memfasilitasi manfaat yang dapat diperoleh karyawan sesuai dengan kontribusinya agar mampu meningkatkan semangat kerja. Juga tentukan kerangka karir/jalur karir yang jelas bagi karyawan dengan kontribusi yang telah mereka buat. Hal ini akan memberikan kejelasan mengenai peluang “promosi” dalam hal kinerja dan kontribusi yang dapat mereka berikan kepada perusahaan.
  1. Ekspektasi: Tetapkan ekspektasi dengan menggunakan KPI/OKR/atau kerangka kerja serupa. KPI (Key Performance Indicator) sering digunakan sebagai alat ukur yang banyak digunakan oleh perusahaan untuk mengukur sejauh mana kinerja suatu organisasi atau karyawan dalam memenuhi tujuan strategis dan operasionalnya. Sedangkan OKR (Objectives and Key Result) dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur sejauh mana apa yang dilakukan sudah sesuai dengan target perusahaan. OKR membantu tim di perusahaan untuk mengevaluasi upaya pencapaian target.
  1. Training dan mentorship. Training dan mentorship adalah segala kegiatan untuk memberikan, memperoleh, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan. Umumnya pelatihan kerja atau training di suatu perusahaan selalu berkaitan erat dengan hasil kinerja para engineer di perusahaan tersebut. Dengan mengadakan pelatihan, karyawan dapat memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.

Bagaimana kolaborasi antara engineer dan manajemen yang baik dapat mendukung perusahaan teknologi? Ini adalah pertanyaan yang jawabannya sudah ada di diskusi sebelumnya. Pada akhirnya, pilar-pilar perusahaan teknologi memang terdapat pada dua komponen sumber daya manusia, yaitu manajer yang berkompeten dalam mengelola tim engineeringnya dan engineer yang memiliki keterampilan yang baik dalam menjalankan proyeknya. Kedua komponen ini harus memiliki komunikasi yang baik agar dapat berkolaborasi dan bersinergi dalam membangun perusahaan teknologi. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai karena merupakan hal yang utama dalam menyelaraskan satu pemikiran sehingga akan memandu penyelesaian pekerjaan secara efektif dan efisien.

GLAIR.AI merupakan salah satu perusahaan teknologi yang bergerak di bidang AI, Cloud, dan layanan IT lainnya yang saat ini sedang berusaha mengembangkan engineer dan manajemen yang baik di dalam perusahaan. Setidaknya ada landasan dasar yang membangun GLAIR dalam pengalokasian sumber daya manusia dengan baik. Sebagai salah satu perusahaan yang “unik” GLAIR merupakan bagian dari institusi besar di atasnya seperti GDP Labs, GDP Venture, dan Djarum Group sehingga menjadi dasar adanya “sinergi” dalam pengelolaan perusahaan yang kompeten dan terstruktur. Proses rekrutmen karyawan yang terstruktur, alokasi pembagian manfaat yang jelas dan seimbang dengan kontribusi karyawan, pemberdayaan engineer-nya, serta pendampingan dan pelatihan untuk pengembangan kualitas pekerja di dalamnya merupakan pilar-pilar yang membangun GLAIR dalam mengelola manajemen di dalam organisasi.

Kesimpulan

 

Saat ini, perusahaan teknologi adalah salah satu driver kuat yang membentuk ekonomi global. Perusahaan teknologi terlibat dalam penelitian, pengembangan, dan pembuatan barang dan jasa berbasis teknologi. Engineering dan manager adalah dua komponen penting yang dibutuhkan dalam membangun perusahaan teknologi yang baik. Namun, tim teknis masih memerlukan metode untuk meningkatkan nilai dan meningkatkan produktivitas. Sayangnya, seringkali lebih mudah untuk mengatakan daripada melakukan. Memiliki manajer yang kuat dengan kemampuan untuk mengoptimalkan jalur produksi dan meningkatkan throughput tanpa melelahkan engineer berbakat adalah langkah pertama dalam mengoptimalkan dan meningkatkan kinerja tim engineer.

 Berdasarkan pendapat Timotius, pada awal karir mereka, para engineer tidak diharapkan untuk mencentang semua ciri-ciri engineer yang baik. Good engineer vs bad engineer bukanlah sesuatu yang binary. Ini lebih merupakan spektrum. Di awal karir Anda, keterampilan teknis Anda lebih penting dan lingkaran pengaruh Anda sempit. Saat Anda menjadi lebih senior, lingkaran pengaruh Anda akan menjadi lebih luas dan Anda secara bertahap diharapkan untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Oleh karena itu, Anda perlu belajar berkomunikasi dengan baik.

 Komunikasi sangat penting dalam membentuk seorang engineer dan manager. Hal ini menjadi solusi dalam menjawab permasalahan di lingkungan kerja. Sebagian besar engineer seharusnya berkomunikasi secara efektif dan jelas dengan manajer, klien, rekan kerja, dan bahkan pelanggan. Singkatnya, technical skill tidak lengkap tanpa soft skill seperti communication skill. Karena itu, selama gelar Anda adalah engineer, Anda masih diharapkan untuk mengasah keterampilan teknis Anda dan sesekali melakukan praktik langsung.

 Engineer bukan hanya developer yang mengembangkan produk tetapi juga pemecah masalah yang perlu menguasai banyak aspek di luar keterampilan pengembang. Timotius juga berpesan bahwa seorang manajer adalah jabatan yang diperoleh bukan karena kenaikan pangkat. Manajer harus memiliki keterampilan yang kompeten dalam mengelola tim tidak hanya dari sudut pandang teknis tetapi juga dari bisnis dan aspek lainnya. Manajerial adalah keterampilan yang berbeda dari engineering. Memang ada manajerial khusus untuk engineering. Lebih baik, jangan perlakukan manajer sebagai level berikutnya dari engineer. Ini dapat menyebabkan efek yang disebut double-kill "kehilangan good engineer dan mendapatkan bad manager". Sedangkan manajer bukanlah tolak ukur seseorang untuk menjadi pemimpin sebuah tim. Dimanapun seseorang bisa menjadi pemimpin. Pengalaman dapat mendorong kita untuk menjadi pemimpin dimanapun dan dalam posisi apapun.

 Engineer dan manajemen diperlukan untuk setiap organisasi. Tim yang dapat dengan cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru diperlukan di sektor teknologi yang berkembang pesat, seperti halnya kepribadian yang kuat untuk mengelola tim tersebut. Leader, manajer, engineer, dan tim mendorong kesuksesan bisnis di pasar yang ada pada belakang layar.

Diterjemahkan oleh Denny Fardian
contact us

Siap mempercepat transformasi digital pada bisnis Anda?

Kirim email Anda dan kami akan menjawab seluruh pertanyaan Anda tentang produk dan layanan kami.
HUBUNGI KAMI